Ihsan Dalam Perbuatan
Ihsan secara bahasa adalah lawan dari perbuatan
buruk. Dan secara istilah adalah mendatangkan (sesuatu) yang dituntut
secara syar’i di atas segi yang baik. Dan sungguh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menjelaskan (makna) ihsan pada hadits Jibril
yang terkenal ketika malaikat Jibril ‘alaihis salam menanyainya tentang
islam dan iman maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab
keduanya, dan jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika malaikat
Jibril ‘alaihis salam menanyai Nabi tentang perbuatan Ihsan
maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “kamu beribadah
kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Maka jika kamu tidak dapat
melihat-Nya maka sesungguhnya Dia (Allah) melihatmu”.
Maka sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah menjelaskan makna al-ihsan pada hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim
ini, agar seseorang melakukan sesuatu yang dengannya ia beribadah kepada
Allah Ta’ala seakan-akan dia itu berdiri di hadapan Allah, dan yang
demikian ini memerlukan kesempurnaan rasa takut dan inabah (kembali) kepada
Allah Ta’ala dan mengharuskan/wajib untuk melaksanakan ibadah sesuai
langkah yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menempuhnya.
Jawaban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengandung penjelasan sebab yang mendorong kepada perbuatan ihsan bagi
siapa saja yang belum sampai pada derajat dan kedudukan yang tinggi ini.
Ingatlah! Jawaban itu adalah peringatan kepada pelaku ibadah bahwasanya Allah
mengawasi dirinya, tidak tersembunyi bagi Allah sesuatu pun dari
perbuatan-perbuatannya. Dan Allah akan membalasnya atas perbuatan
tersebut, jika (perbuatan itu) baik, maka (balasannya) baik dan jika buruk maka
buruk. Dan tidak diragukan lagi bahwasannya seorang yang berakal ketika
dia mengingat bahwasannya Allah mengawasinya (maka) ia akan memperbaiki
amalannya karena berharap apa yang adan di sisi Allah berupa ganjaran bagi
orang-orang yang berbuat baik dan takut dari siksaan yang Allah janjikan pada
orang-orang yang berbuat jelek.
Allah Ta’ala berfirman :
إن في ذلك
لذكرى لمن كان له قلب أو ألقى السمع وهو شهيد
“Sungguh pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan
bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya
sedang dia menyaksikaní” (QS. Qoof : 37)
KEUTAMAAN PERBUATAN IHSAN
Dan karena perhatian islam terhadap ihsan dan agungnya
kedudukan ihsan tersebut (maka) Allah subhana wa ta’ala mengagungkan
keutamaannya dan mengkhabarkan di dalam kitabnya yang mulia bahwasanya dia
menyukai orang-orang yang berbuat ihsan dan Allah bersama mereka dan cukuplah
yang demikian itu sebagai keutama’an dan kemulia’an, Allah Ta’ala
berfirman :
“Dan berbuat baiklah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik.“ (QS al-baqoroh :195)
Allah Ta’ala berfirman :
والذين جاهدوا
فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridhoan) kami,kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.dan sesungguhnya
Allah bersama orang-orang yang berbuat baik “(QS Al-Ankabut : 69)
BALASAN ORANG-ORANG YANG BERBUAT BAIK
Dan termasuk rahmat Allah Ta’ala dan karunianya
adalah menjadikan balasan sesuai jenis amal, dan termasuk yang demikian itu
adalah bahwasanya Allah Ta’ala menjadikan balasan perbuatan baik dengan
kebaikan pula sebagaimana dalam firman-Nya :
هل جزاء
الإحسان إلا الإحسان
“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan
(pula)” (QS Ar-Rahman : 60)
Maka barang siapa yang memperbaiki amalannya maka
Allah Ta’ala membaikkan balasannya,dan sungguh Allah Ta’ala telah
menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia balasan orang yang berbuat baik dan
merupakan seagung-agung dan sesempurna-sempurna balasan. Maka Allah Ta’ala
berfirman:
للذين أحسنوا
الحسنى وزيادة
“Bagi orang-orang yang berbuat baik al-husna (pahala yang
terbaik) dan tambahannya” (QS. Yunus: 26)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
menafsirkan ayat ini sebagaimana Imam Muslim meriwayatkan
dalam shohihnya dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya (makna)
al-husna adalah surga dan makna ziyadah adalah melihat wajah Allah ‘Azza wa jalla.
Maka orang-orang yang berbuat ihsan yang dia menyembah
Allah Ta’ala seakan-akan melihat-Nya maka Allah Ta’ala akan membalas
mereka terhadap amalan itu dengan memandang wajah Allah Ta’ala di
akhirat. Dan sebaliknya, orang-orang kafir yang telah tertutup hati mereka,
maka tidak terdapat dalam hati mereka tempat untuk merasa takut kepada Allah
Ta’ala dan merasa diawasi di dunia ini, maka Allah Ta’ala akan
mengazab mereka atas perbuatan itu dengan menghijabi mereka dari melihat-Nya di
akhirat kelak.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
كلا إنهم عن
ربهم يومئذ لمحجوبون
“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar
terhalang dari (melihat) tuhannya” (QS.
Al-Muthoffifiin:15)
Dan sebagaimana balasan orang-orang yang berbuat baik
adalah kebaikan maka sesungguhnya kesudahan orang-orang yang berbuat buruk
adalah keburukan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
ثم كان عاقبة
الذين أساؤوا السوأى أن كذبوا بآيات الله وكانوا بها يستهزؤون
“Kemudian adzab yang lebih buruk adalah kesudahan bagi
orang-orang yang mengajarkan kejahatan. Karena mereka mendustakan
ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya“ (QS. Ar-Ruum
: 10)
Dan firman-Nya :
بلى من أسلم
وجهه لله وهو محسن فله أجره عند ربه ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون
“Tidak! Barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi tuhannya dan
tidak ada rasa takut kepada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS.
Al-Baqoroh :112)
Dan firman-Nya :
إن رحمة الله
قريب من المحسنين
“Sesungguhnya rahmat Allah adalah dekat dari orang-orang
yang berbuat baik“
(QS. Al-A’rof:56)
JALAN-JALAN BERBUAT IHSAN
Perbuatan ihsan dituntut pada ibadah dan muamalah, maka
ibadah apa pun yang Allah Ta’ala memfardukannya atas seorang hamba maka
sesungguhnya wajib baginya agar mengerjakannya dan menyesuaikannya dengan syariat Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Sebagaimana seseorang menyukai agar orang lain
memperlakukan dirinya dengan perlakuan yang baik maka sungguh wajib baginya
agar berbuat baik kepada orang lain dengan memperlakukannya semisal dengan
apa-apa yang ia suka agar dia diperlakukan seperti itu.
Dan yang demikian itu adalah dengan menempuh jalan-jalan
yang kami akan memperlihatkan sebagiannya secara rinkas.
- Berbuat
Ihsan Dengan Manfaat/Guna Badan
Yang demikian itu dengan mengurbankan pengorbanan apa
saja yang ia sanggupi berupa kekuatan badan dalam menghasilkan kebaikan
mencegah kerusakan,maka hendaknya ia mencegah orang-orang yang dzolim dari
kezolimannya dan menyingkir gangguan dari jalan sebagai contoh, dan inilah
jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memaksudkannya pada
sabdanya di dalam hadits:
كل سلامى من
الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس يعدل بين الاثنين صدقة ويعين الرجل على
دابته فيحمل عليها أو يرفع عليها متاعه صدقة والكلمة الطيبة صدقة وكل خطوة يخطوها
إلى الصلاة صدقة ويميط الأذى عن الطريق صدقة )
“Setiap persendian dari manusia itu ada sedekahnya
disetiap hari yang matahari terbit padanya. Mendamaikan diantara dua orang
adalah sedekah, dan menolong seseorang pada (urusan) kendaraannya lalu kamu
naikkan dia di atas kendaraannya atau kamu naikkan perbekalannya di atas
kendaraannya itu adalah sedekah, dan kalimat yang baik adalah sedekah, dan
setiap langkah yang kamu jalni menuju (tempat) sholat adalah sedekah, dan
menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah”. (Muttafaqun ‘alaihi)
- Berbuat
Ihsan Dengan Harta
Dan orang yang telah melapangkan rizki dan mendatangkan
kepadanya harta. Maka, wajib baginya bersyukur kepada Allah Ta’ala dari
nikmat tersebut dengan membelanjakannya pada jalan-jalan yang Allah Ta’ala
syari’atkan, seperti memunuhi kebutuhan,dan menolong orang yang di timpa
bencana, membebaskan tawanan, menjamu tamu, memberi makan orang yang lapar ,
sebagaimana perwujudan bagi firman Allah Ta’ala :
وأحسن كما أحسن
الله إليك
” Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik
kepadamu”
(QS. Al-Qoshosh : 77)
- Berbuat
Ihsan Dengan Kedudukan
Ketika seorang muslim tidak dapat memenuhi kebutuhan
saudaranya dengan harta dan secara langsung memberikan manfaat kepadanya maka
hendaknya ia menjadi penolong bagi saudaranyadi dalam jalan memperoleh manfaat
tersebut.
Yang demikan itu adalah meneladani Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan mengikuti perintahnya.
Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah membantu memberi syafaat Mughis di hadapan istrinya, yakni Bariiroh
radhiyallahu ‘anhu dan juga memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk
memberi pertolongan (syafaat) dengan sabdanya :
اشفعوا تؤجروا
“Berikanlah (syafaat), niscaya kalian mendapat
pahala” (Muttaffaqun alaih)
- Berbuat
Ihsan Dengan Ilmu
Ini adalah jalan yang paling agung dan paling sempurna
manfaatnya, karena perbuatan ihsan (jenis) ini menyampaikan kepada kebahagiaan
dunia dan akhirat dan dengannya seorang hamba beribadah kepada Allah Ta’ala
di atas bashiroh, maka barang siapa yang Allah Ta’ala mudahkan baginya
sebab-sebab memperoleh ilmu maka tanggungjawabnya itu adalah besar, berupa
pengajaran bagi orang-orang jahil dan membimbing orang-orang yang kebingungan,
memberi fatwa dari orang-orang yang bertanya, dan selain itu dari (sesuatu)
yang bermanfaat yang bisa membantu orang lain.
- Berbuat
Ihsan Dengan Amar Ma’ruf Dan Nahi Mungkar
Dan tidaklah keadaan umat Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam sebaik-baik ummat yang dikeluarkan pada manusia
kecuali dengan menempuh jalan amar ma’ruf dan nahi mungkar itu.
Allah Ta’ala berfirman dala menetapkan ummat ini :
كنتم خير أمة
أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan kepada
manusia, kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar
, dan beriman kepada Allah“. (QS.Ali-Imran :110)
Allah Ta’ala telah melaknat orang kafir dari bani
Israil disebabkan karena mereka tidak mencegah kaumnya dari perbuatan mungkar.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
لعن الذين
كفروا من بني إسرائيل على لسان داود وعيسى ابن مريم
ذلك بما عصوا
وكانوا يعتدون كانوا لا يتناهون عن منكر فعلوه لبئس ما كانوا يفعلون
“Telah dilaknat orang-orang kafir dan Bani Isra’il
melalui lisan Dawud dan Isa bin maryam yang demikian itu karena mereka durhaka
dan selalu melampaui batas. mereka tidak saling mencegah dari perbuatan mungkar
yang selalu mereka kerjakan” (QS Al-Maidah
: 78-79)
Manfaat dari amar ma’ruf nahi mungkar tidak akan tercapai
dan sempurna kecuali orang-orang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar tidak
melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jika
tidak, maka akan berbahaya baginya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
كبر مقتا عند
الله أن تقولوا ما لا تفعلون
“Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan
sesuatu yang kamu tidak kerjakan” (QS. As-Shof
: 3)
Dan berbuat ihsan kepada manusia dengan amar ma’ruf nahi
mungkar tentu saja harus berasal dari ilmu, karena sesungguhnya orang jahil terkadang
memerintahkan kepada sesuatu yang mungkar dan terkadang melarang terhadap
sesuatu yang baik, dan hendaknya ia menggabungkan pada ilmu itu hikmah dan
bersabar terhadap sesuatu yang menimpanya.
firman Allah Ta’ala :
وأمر بالمعروف
وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك
“Perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang
mungkar dan bersabarlah terhadap sesuatu yang menimpamu.” (QS. Luqman:
17)